Survey Awal

DSC_0735Nah, setelah menempuh perjalanan panjang dari Jakarta – Denpasar – Labuan Bajo – Ende pada tanggal 30 Oktober 2012, kami pun melakukan orientasi selama seminggu di Ibukota Kabupaten Ende termasuk menghadap Kepala Dinas Kesehatan dr. Yohanes Don Bosco, Kepala Bappeda drg. Dommi Mere, Bupati Drs. D.B M. Wanggae serta mempersiapkan berbagai keperluan dan logistik yang harus dibawa ke Pulau Ende. Hari Jumat, tanggal 2 November 2012 kami melakukan survey awal ke Pulau Ende bersama dengan Kepala Puskesmas Fransiskus dajo, yang lebih akrab kami panggil om Frans. Kedatangan ini untuk memastikan lokasi tempat tinggal selama setahun ke depan dan kekurangan yang perlu ditambal untuk kelancaran kebutuhan tim selama di Pulau Ende. Pengalaman kedua naik kapal motor kecil yang disini dinamakan taxi karena dulu pernah naik kapal dengan ukuran yang sama ketika menyeberangi Pulau Samosir di Sumatera Utara. Dan, luar biasa pemandangan laut yang sangat indah. Sayangnya terumbu karang disini sudah sangat kurang akibat penggunaan bom ikan berpuluh-puluh tahun yang lalu. Setelah melihat berbagai rumah yang mungkin bisa kami tempati, akhirnya kami memilih tinggal di rumah Om Bonar, juragan kapal motor di Pulau Ende. Si Om punya 3 kapal motor yang diberi nama Harimau 1, 2, dan 3. Di hari yang sama kami juga mengunjungi Puskesmas Ahmad Yani, yang akan menjadi homebase program ini selama 3 tahun. Kesan pertama yang cukup bagus di awal kedatangan kami.

#uda

Advertisements

H.Araboesman

@harikaputra __ 08116660446iAlam Takambang Jadikan Guru. Pepatah minang ini selalu saya bawa kemana pun kaki melangkah. Bagi pemuda minang merantau mungkin bisa dikatakan sebagai “hijrah”. Hijrah untuk menjadi lebih baik, mendapatkan pengalaman lain ditempat baru akan menjadi guru yang sangat berharga.  Sama halnya, ketika dulu memutuskan untuk kuliah di Fakultas Kedokteran Udayana Bali, banyak pertanyaan yang muncul kenapa harus menempuh pendidikan sejauh itu. Ada juga yang berpendapat apakah pendidikan disana sangat bagus sampai tertarik hidup dan belajar di sana. Bagi saya ini bukan masalah lebih bagus atau tidak, tetapi ini adalah masalah alam yang berbeda yang tentunya harus kita hadapi dengan cara yang berbeda dan hal ini tidak bisa dibeli oleh apa pun. Nah, perjalanan ini pula yang akhirnya saya torehkan dalam perjalanan hidup selanjutnya di Negeri Flores, dan kebetulan adalah bagian dari sebuah kerajaan yang dulu dipimpin H.Araboesman, Ende. Saya tidak pernah menyangka daerah ini banyak Bapak Hajinya, karena dari dulu sepengetahuan saya wilayah timur ini agama Islam sangat minoritas dan jauh berbeda dengan Kota Ende. Hampir 40% masyarakat di Kota Ende memeluk agama Islam dan bandaranya pun diberi nama H.Araboesman. Keturunan dari Raja ini sekarang juga banyak mendiami daerah Pulau Ende, kecamata penugasan Tim Pencerah Nusantara di Ende dan masyarakat disini 100% beragama Islam. Dari tadi berbicara tentang Agama Islam sebenarnya bukan membandingkan atau membanggakan sebuah agama, tetapi ini adalah sebuah tantangan dalam sebuah homogenitas komunitas. Katanya, pendekatan kepada komunitas seperti ini sangat jauh berbeda dengan kompleksitas masyarakat terpencil di daerah lain. Dan semoga apa yang ditularkan oleh Pak Haji ini bisa kami adopsi dalam pendekatan kepada masyarakat disini.

#uda

Sumpah Pemuda

Siapa yang tidak mengenal kata “Sumpah Pemuda”. Bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu.. I N D O N E S I A. Seperti yang selalu kami getarkan dalam sanubari ketika dipanggil.. Halo Geng? Dan semua akan serentak meneriakkan Indonesia. Tetapi, dalam hidup saya, hari Sumpah Pemuda kali sungguh sangat berkesan. Kami adalah bagian dari Program Pencerah Nusantara yang diinisiasi oleh Kantor Utusan Khusus Presiden RI untuk MDGs. MDGs adalah singkatan dari Millenium Development Goals yang merupakan kesepakatan para pemimpin dunia pada September 2000 untuk membuat sebuah tujuan pembangunan millenium yang kemudian dirumuskan dalam 8 tujuan MDGs. 5 dari 8 tujuan itu berkaitan dengan kesehatan diantaranya masalah nutrisi/gizi, kesehatan bayi/balita, kesehatan ibu, pencegahan penyakit infeksi, dan sanitasi. Nah, program ini bertujuan untuk mengubah paradigma masyarakat yang selama ini belum tepat dalam rangka percepatan pencapaian MDGs negara kita ini. Hal yang membuat sangat berkesan karena 28 Oktober 2012 Tim Pencerah Nusantara ini dilepas ke 7 lokasi di Indonesia yaitu Mentawai, Karawang, Pasuruan, Berau, Toli-Toli, Sigi, Ende. Berkenaan tidak ada penerbangan ke Ende di hari itu, Tim kami yang dalam dunia social media sering memakai hashtag #endeteam diberangkatkan 2 hari berikutnya pada tanggal 30 Oktober 2012. Tetapi, semangat Sumpah pemuda tetap mengakar dalam walaupun kami diberangkatkan pada tanggal yang berbeda.

#uda

Pencerah Nusantara “Gila”

252251_229874637142798_1461124096_n1 hal yang membuat program ini luar biasa adalah orang-orang yang terlibat di dalamnya. Ya, kami mungkin termasuk orang-orang “gila”. Orang-orang yang berani meninggalkan berbagai kemewahan dan gemerlap ibukota untuk mengabdikan diri di tempat yang sangat terpencil. Ketika air tawar menjadi barang yang sangat langka, listrik hidup setengah hari, tidak ada warung makan, tidak ada pasar, hidup di suhu rata-rata 38® C. Ya, kata “gila” mungkin cukup tepat. Sama seperti teman-teman yang ditempatkan di 6 lokasi lainnya, dan mungkin keadaannya jauh lebih parah.

Ada beberapa teman yang mengatakan kami ini golongan anti kemapanan. Apapun istilahnya, program ini berawal dari sebuah niat baik untuk membawa sebuah perubahan dalam pelayanan kesehatan tingkat dasar (Puskesmas). Dan kami, tidak hanya dengan niat tulus, tetapi juga semangat membara, komitmen yang teguh akan berada ditengah mereka, masyarakat yang mungkin belum pernah tersentuh oleh pelayanan kesehatan.

Sebenarnya, ini bukan tentang bagaimana kami mengorbankan banyak hal untuk mengabdikan diri kami. Ini tentang hak mereka sebagai warga negara, mereka juga membayar pajak, mereka juga ikut memilih, tetapi mereka tidak pernah mendapatkan apa yang seharusnya mereka dapatkan sebagai warga negara. Perjalanan ini adalah tantangan yang besar. Harapan yang besar bagi mereka. Ketika datang, mungkin dahi mereka akan menyerngit, tetapi kami berjanji akan dilepas dengan pelukan dan senyuman manis mereka.

#uda

Training Hari 32

DSC_0014Hidup itu perlu perubahan

Hidup itu perlu pencerahan

Hidup itu perlu cinta kasih

Bahwa hidup ini hanya sementara

Bahwa hidup ini takkan pernah kekal

Bahwa hidup ini akan dipertanggungjawabkan

Tuhan selalu mengajarkan kita untuk berbuat baik, harusnya itu menjadi konsep hidup manusia dimanapun. Seorang pencopet ulung pun ketika berada di komunitasnya akan selalu berusaha yang terbaik. Dia akan berusaha untuk memenuhi kebutuhan keluarga, menjadi kepala keluarga yang baik untuk istri dan anak-anaknya, menjadi kakak, adik, untuk handai taulan yang lain. Sebenarnya dengan berbuat baik semua akan terasa indah dan damai.

Ini adalah hari 32, menjadi bagian dari program yang sampai saat ini sangat luar biasa. Ya, sampai saat ini karena beberapa hari lagi beban itu akan kami pikul sendiri. Entah kami bisa memikul beban berat ini, menjadikan ekspektasi tinggi orang-orang yang mengirim kami menjadi kenyataan, menjadi agen perubahan, melakukan re-orientasi pelayanan kesehatan yang masih belum optimal. Sungguh,  sebenarnya ini akan menjadi pengalaman yang sangat luar biasa, menjadi petualangan hidup baru yang akan menjadi cerita yang sangat menarik. Dan yang pasti apa yang kami lakukan, tulus atau tidak tulus, ikhlas atau tidak ikhlas akan kami pertanggungjawabkan.

Saya sendiri, atau mungkin lebih tepatnya kami sebagai Tim berharap apa yang kami lakukan ini benar-benar membawa pencerahan bagi masyarakat Pulau Ende, tempat kami ditugaskan, mejadi inspirasi, menumbuhkan semangat kemandirian bagi diri kami. Dan menjadi sebuah gerakan, momentum kebangkitan untuk Indonesia yang lebih baik.

Komitmen dengan Elemen Masyarakat

Ibarat mencari seorang pasangan hidup tentu harus membuat komitmen dulu kemana hubungan ini akan kita arahkan. Hal inilah yang kami lakukan ketika untuk kedua kalinya menginjakkan kaki di Pulau Ende. Kedatangan kami kali ini bukan untuk melakukan survey lagi, tetapi menjadi bagian dari kehidupan masyarakat disini. Selasa, 6 November 2012 sebuah kebetulan yang tidak kami prediksi berangkat dari Kota Ende bersamaan waktu dengan Camat Pulau Ende yang baru saja dilantik. Walaupun bukan orang baru Dalam pemerintahan tetap ini adalah hal baru buat beliau untuk bertugas di Pulau Ende. Dan apa yang beliau alami juga sama dengan apa yang kami rasakan. Inilah yang membuat hubungan antara tim ini dengan Pak Camat ini sangat akrab. 2 hari berada di Pulau Ende kami pun melakukan berbagai koordinasi dengan banyak pihak terutama Pihak Kecamatan dan langsung melakukan pertemuan Akbar dengan Elemen Masyarakat Pulau Ende di Gedung Serbaguna Kecamatan yang dihadiri ±50 undangan dan terdiri dari Muspika, Kepala Desa, Kepala BPD (Badan Pemberdayaan Desa), Kepala Dusun, Kepala SD-SMA, Tokoh Agama, dan Tokoh Masyarakat. Pertemuan ini sendiri mendapat sambutan yang sangat antusias dan komitmen semua elemen masyarakat ini ditunjukkan dengan membubuhkan tanda tangan di selembar kain putih yang bermakna semangat dari Tim Pencerah Nusantara dan Elemen Masyarakat Pulau Ende dalam mendukung program ini dilandasi dengan hati yang putih dan niat yang tulus. Harapan mereka begitu besar Geng!!!

#udauplod (6)