PELATIHAN DUTA SANITASI DAN KESEHATAN TINGKAT SEKOLAH DASAR SE-PULAU ENDE

layer finish backdrop

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Salah satu modal pembangunan nasional adalah sumber daya manusia yang sehat dan berkualitas baik secara fisik, mental, dan sosial serta mempunyai produktivitas yang optimal. Untuk itu diperlukan upaya-upaya pemeliharaan dan peningkatan kesehatan secara terus menerus dimulai dari sejak dalam kandungan, usia balita, usia sekolah, sampai usia lanjut. Dalam Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan disebutkan bahwa sekolah diselenggarakan untuk meningkatkan kemampuan hidup sehat peserta didik dalam lingkungan hidup sehat sehingga peserta didik dapat belajar, tumbuh, dan berkembang secara harmonis dan setinggi-tingginya menjadi sumber daya manusia yang berkualitas.
Sebagai implementasi Undang-Undang tersebut, di Indonesia upaya pemeliharaan dan peningkatan kesehatan dilakukan melalui penerapan promosi kesehatan di sekolah sejak WHO (Word Health Organization) pada tahun 2000 menerapkan konsep Health Promoting Shcool atau sekolah yang mempromosikan kesehatan. Konsep ini sejalan dengan pelaksanaan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) berdasarkan Keputusan Bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Kesehatan, Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia tahun 1984.
Tantangan seputar sektor air bersih, sanitasi dan higienitas sangat universal. Di seluruh dunia, 2.4 milyar orang akan hidup tanpa sanitasi yang layak pada tahun 2015. Air yang tidak bersih, sanitasi yang buruk dan higienitas yang tidak layak menyebabkan penyakit diare yang menyebabkan lebih dari 800.000 anak-anak balita meninggal setiap tahun. Indonesia menghadapi isu yang sama dengan akses yang terbatas kepada sumber-sumber air bersih yang layak dan sanitasi dasar. Karena beragamnya kondisi geografis dan akses yang terbatas terhadap sumber-sumber air bersih yang layak; memastikan akses ke air yang bersih dan aman, sanitasi dan higienitas yang layak adalah tantangan yang berat. Pulau Ende masih menghadapi kesulitan mendapatkan akses air bersih dan layak konsumsi, selain itu kondisi lingkungan yang mulai tercemar karena masalah sampah dan limbah yang penyalurannya tidak tepat menjadi tantangan tersendiri.
Berdasarkan penjabaran di atas Sekolah Dasar di Pulau Ende membutuhkan siswa-siswi yang mampu menjadi duta dalam hal promosi kesehatan dan sanitasi lingkungan. Pada saat ini belum terdapat suatu wadah yang menaungi program tersebut, tidak seperti di kota-kota atau daerah lain, dimana hampir tiap sekolah telah memiliki ‘dokter kecil’ maupun program sejenisnya. Oleh karena itu dibentuklah Duta Sanitasi dan Kesehatan tingkat Sekolah Dasar sebagai suatu wadah yang mendukung program Usaha Kesehatan Sekolah.
Pelatihan Duta Sanitasi dan Kesehatan merupakan kegiatan yang dirancang oleh pencerah Nusantara dan Mercy Corps Indonesia yang bertujuan untuk mempromosikan kesehatan dan sanitasi yang baik di lingkup dasar, yaitu Sekolah Dasar. Kegiatan ini melibatkan berbagai pihak diantaranya Dinas Kesehatan Kabupaten Ende, Puskesmas Achmad Yani, dan SD se-Kecamatan Pulau Ende. Peserta dari pelatihan ini adalah 5 orang siswa/SD dan 1 orang guru pendamping. Pelatihan berlangsung selama 2 hari, yaitu pada tanggal 25-26 Februari 2014. Pelatihan diadakan di dua tempat, yaitu di SDN Puutara dan SDI Rendomaupandi.
Kegiatan berlangsung sangat seru dan meriah, tanpa meninggalkan nilai esensial yang disampaikan. Siswa-siswi terlibat aktif dalam pelatihan, mereka dituntut tidak hanya sebagai pendengar tapi juga mampu memberikan pendapat dan dilatih untuk menyampaikan kembali materi yang telah diberikan. Dekorasi ruangan dibuat senyaman mungkin bagi anak-anak, dengan hiasan balon, pita warna-warni, dan poster-poster kesehatan.
Materi yang disampaikan mengenai kesehatan dasar dan sanitasi lingkungan yang baik.Materi hari pertama meliputi: pertolongan pertama pada pingsan, luka, kebersihan diri, mengukur tinggi dan berat badan, kesegaran tubuh, indikator PHBS di sekolah, sampah dan pengolahannya, air bersih, cuci tangan pakai sabun. Materi hari kedua meliputi : konsumsi jajanan sehat di kantin, pilar STBM, tidak merokok di sekolah, jamban bersih dan sehat, memberantas jentik nyamuk, dan cara membuat jebakan nyamuk. Pemateri mengemas materi dengan cara yang menarik, seperti dengan nyanyian, menggunakan permainan, meminta peserta memberikan pendapat, diskusi kelompok kecil, menggunakan property yang berwarna dan bergambar. System reward juga diterapkan dalam pelatihan ini, peserta yang terlibat aktif, berani memberikan pendapat, mempraktikkan kembali, diberikan hadiah berupa bintang yang pada akhir kegiatan akan diakumulasi jumlahnya.

???????????????????????????????

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

simulasi siswa dalam penanganan luka ringan

Pada hari kedua juga dilakukan penyusunan rencana tindak lanjut oleh kepala sekolah dan guru pendamping. Selain itu siswa-siswi diminta menuliskan harapan mereka mengenai kesehatan dan sanitasi di sekolah yang akan menjadi salah satu rekomendasi dalam penyusunan rencana tindak lanjut. Dengan terbentuknya Duta Sanitasi dan Kesehatan diharapkan pesan-pesan kesehatan dan sanitasi dapat tersampaikan secara dini di lingkungan Sekolah Dasar.

???????????????????????????????

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

simulasi pemicuan STOP BABS pada anak – anak.

 

???????????????????????????????

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Praktik singkat pembuatan alat penangkap nyamuk sederhana dan murah meriah

Advertisements

Nurdin Hasan, Pelita Nusantara Bidang Pendidikan dari Pulau Ende NTT dalam MDGs Award Tahun 2014

nurdinNurdin Hasan merupakan seorang kepala Madrasah Tsanawiyah Swasta Nurul Ummah di Kec. Pulau Ende. Kiprah beliau di bidang pendidikan dimulai sejak tahun 1992 dengan menjadi guru sukarela di MIN Kab. Ende. Tahun 2007 beliau dipindahkan ke Pulau Ende sebagai guru di SDN Ekoreko Pulau Ende. Melihat kondisi masyarakat Pulau Ende khususnya di bidang pendidikan, beliau merasa terpanggil untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat, salah satunya dengan menginisiasi pendirian SMP Satap Ekoreko, dimana saat itu di Pulau Ende baru memiliki satu Sekolah Menengah Pertama (SMP). Peran serta beliau dalam pendirian SMP Satap Ekoreko adalah sebagai sekretaris program.
Nurdin merupakan seorang lulusan madrasah. Beliau berniat membangun Madrasah Tsanawiyah di Pulau Ende dilatarbelakangi kecintaan beliau terhadap madrasah dan kondisi masyarakat Pulau Ende yang memerlukan pendidikan Agama Islam pada jenjang lanjutan. Selain alasan di atas, beliau juga menampung kekecewaan masyarakat yang telah dua kali dijanjikan oleh pihak tertentu untuk pembangunan Madrasah Tsanawiyah di wilayah Pulau Ende tetapi belum terpenuhi.
Nurdin merancang pendirian MTs Nurul Ummah secara mandiri. Setelah konsep pembangunan selesai, beliau melakukan konsultasi dengan berbagai pihak yaitu Notaris, Kecamatan Pulau Ende, serta guru MIS pada saat itu. Pendanaan pembangunan MTs pada awalnya menggunakan dana pribadi Nurdin. Setelah melakukan advokasi ke berbagai pihak didapatkan bantuan dana dari Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM), Lembaga Manajemen Infaq (LMI) serta Kementerian Agama.
Dalam pendirian MTs Nurul Ummah, Nurdin banyak mengalami tantangan dan berbagai hambatan, diantaranya pada tahun ajaran pertama sangat sulit mencari siswa baru yang akan bersekolah di MTs Nurul Ummah karena ketidakpercayaan orang tua terhadap sekolah yang baru berdiri. Menghadapi hal itu, beliau bersama Kepala MIS Nurul Ummah mencari calon siswa dengan cara ’door to door’ untuk meyakinkan orang tua terhadap MTs Nurul Ummah. Dari pencarian siswa tersebut, terkumpulah 22 orang siswa yang bersedia sekolah di MTs Nurul Ummah. Sehingga pada tahun 2009 MTs Nurul Ummah secara resmi melangsungkan kegiatan belajar mengajar. Hambatan berikutnya yaitu sulitnya memperoleh tenaga guru yang bersedia mengajar di MTs sehingga beliau sempat mengajar semua mata pelajaran di awal berdirinya MTs. Seiring berjalannya waktu, diperoleh bantuan guru dari MIS Nurul Ummah dan SMP Satap Ekoreko, dan mulai terdapat beberapa orang yang mendaftar menjadu guru dan staf pegawai di MTs Nurul Ummah. Hingga saat ini, jumlah tenaga guru sebanyak 9 orang, serta 6 orang pegawai.
Nurdin menanamkan nilai-nilai positif di lingkungan MTs Nurul Ummah baik di kalangan guru maupun siswanya. Salah satu kebijakan beliau dalam penanaman nilai positif di kalangan guru adalah membuat peraturan tentang kedisiplinan dan sekolah tanpa asap rokok. MTs merupakan sekolah pertama yang menyatakan dukungan terhadap program Pencerah Nusantara terkait Kawasan Tanpa Rokok, dan ikut mempromosikan hal tersebut ke masyarakat Pulau Ende secara umum (melalui pertemuan orang tua siswa).
Nurdin membentuk siswa MTs tidak hanya unggul dalam akademis melainkan juga memiliki akhlak yang baik dan soft skill yang mumpuni. Beberapa kegiatan yang dilakukan MTs yang berbeda dari SMP lain diantaranya adanya diskusi antar siswa sebelum jam pelajaran dimulai. Selain itu, MTs telah membutktikan prestasinya di tingkat kabupaten dengan memperoleh NEM Tertinggi tingkat MTs se-Kabupaten Ende. Dalam hal ekstrakurikuler, ada satu kegiatan ekstrakurikuler yang berbeda dengan sekolah lain yaitu drum band. Drum band yang dilatih langsung oleh Nurdin merupakan satu-satunya drum band di Pulau Ende.
Selain berkiprah di bidang pendidikan formal, kontribusi Nurdin pada masyarakat tidak diragukan lagi. Beberapa hal yang beliau lakukan diantaranya membentuk pengajian Bahrul Ilmi Pulau Ende, Madrasah Diniyah Ekoreko, dan komunitas Hubul Masjid (cinta masjid) di kalangan siswa MTs. Sebelumnya beliau pernah membentuk Taman Pendidikan Al-Quran (TPA) di kabupaten Ende yang dinilai berhasil, hal ini dilihat dari santri yang mengikuti TPA berasal dari berbagai daerah di Kabupaten Ende. TPA berdiri di tengah-tengah masyarakat yang mayoritas beragama Katholik, tetapi Nurdin mampu mengembangkan TPA dengan tidak melanggar nilai-nilai toleransi. Sejak saat itu beliau mendapat julukan Singa Tidur. TPA ini juga berhasil menerbangkan Nurdin ke Bogor untuk bertemu Presiden RI ke-3 (Bapak BJ. Habibie).
Kegiatan pengajian Bahrul Ilmi dilakukan seminggu sekali, yaitu pada hari Rabu, dimana pembahasannya tidak hanya tentang agama tetapi juga tentang aspek kehidupan lainnya yaitu kesehatan, ekonomi, dan sosial. Dalam diskusi tentang kesehatan, beliau mengajak Tim Pencerah Nusantara untuk terlibat dalam pengajian ini. Pengajian ini juga sedang merintis pembentukan Baitul Mal (koperasi sederhana) bagi anggotanya.
Melihat dari perjalanan dan hal-hal yang telah dilakukan oleh Nurdin dalam menanamkan nilai toleransi dan pendidikan berkualitas di Pulau Ende, maka pada tahun 2014 Nurdin memperoleh penghargaan sebagai Pelita Nusantara Bidang Pendidikan dalam MDGs Award.

 

KOMUNITAS REMAJA KREATIF (KOREK) PULAU ENDE

korek

Oleh: Ns. Dewi Seftiani Nugrahi

Remaja sebagai  generasi harapan bangsa, generasi ini masih sangat peka terhadap berbagai pengaruh lingkungan sekitarnya. Oleh sebab itu tidak salah apabila disebutkan bahwa masa ini adalah masa yang sangat menyenangkan dan merupakan masa yang  sangat penting dalam perkembangan kepribadian seorang insan. Pada masa inilah tertanam dan terbentuknya dasar pribadi yang merupakan fondasi perkembangan kepribadian.

Saat pembentukan pribadi tersebut, perlu ditanamkan kepada remaja pendidikan keagamaan dan juga pengalaman yang berkesan, membekas dalam jiwa mereka sebagai bekal yang bermanfaat dalam pembentukan kepribadiannya kelak. Saat ini remaja juga harus dibekali dengan pemahaman terhadap kesehatan yang benar mulai dari kesehatan reproduksi, pengetahuan terhadap bahaya narkoba, perilaku seks bebas, kenakalan remaja, kesehatan lingkungan, dan lai-lain. Kegiatan integratif yang menggabungkan antara pemahaman agama dan kesehatan dalam sebuah kegiatan telah dilakukan di Pulau Ende melalui kegiatan Pasantren Pencerah.

15 (lima belas)  remaja yang telah mengikuti Pasantren Pencerah diharapkan akan menjadi kader pembaharuan di tengah masyarakat khususnya remaja Pulau Ende dalam menanamkan pemahaman yang baik terhadap kesehatan dan ilmu agama. 15 remaja ini diharapkan dapat menjadi peer educator (pendidik sebaya) dikalangan remaja Pulau Ende. Oleh sebab itu, pembinaan secara berkala bagi  kelompok remaja kreatif ini sangat penting dilakukan guna meningkatkan pengetahuan dan skill, meningkatkan motivasi, mengevaluasi kegiatan yang telah dilakukan, dan melengkapi hal-hal yang masih kurang.

Pertemuan KOREK dilakukan sebulan sekali. Pertemuan ini bertujuan untuk pembinaan dan evaluasi kegiatan KOREK setiap bulannya serta diskusi dan penyampaian materi baru baik berupa pengetahuan kesehatan, pengetahuan umum, maupun motivasi. Pada pertemuan tanggal 24 November 2013 dilakukan perkenalan Tim Pencerah Nusantara angkatan 2 dengan anggota KOREK secara lebih mendalam, tim PN2 menggali dan berusaha mengenal lebih jauh anggota KOREK. Pada pertemuan ini juga dilakukan kesepakatan tentang pembinaan KOREK kedepannya, anggota KOREK dan tim PN2 sepakat untuk melakukan pertemuan dan pembinaan sebulan sekali. Materi dan jadwal kegiatan selama pembinaan pun sudah mulai disepakati. Setiap anggota KOREK dibekali logbook, tujuannya sebagai media dalam pemaparan setiap kegiatan anggota KOREK, evaluasi kegiatan, kendala atau hambatan yang dihadapi, sasaran yang tercapai,  serta rencana intervensi selanjutnya. Peserta menyepakati poin apa saja yang dicantumkan di dalam logbook, seperti biodata pemegang buku, isi lembar evaluasi: nama sasaran, materi yang disampaikan, kendala, evaluasi, dan rencana tindak lanjut.

Pada tanggal 22 Desember 2013 dilakukan pertemuan KOREK yang kedua. Pada pertemuan ini beberapa peserta memaparkan kegiatan apa saja yang telah dilakukan selama 1 bulan, dan pembahasan logbook. Penyampaian materi mengenai menstruasi bagi anggota KOREK putri dan cara menjaga kebersihan organ reproduksi bagi anggota KOREK putra. Penyampaian materi berjalan lancar, KOREK mampu menerima materi dengan baik, tanya jawab berlangsung antara KOREK dan tim PN2.

Pertemuan KOREK selanjutnya dilakukan pada tanggal 26 Januari 2014. Pada awalnya KOREK diajak bermain “semangka” sebuah permainan untuk melatih konsentrasi. Setelah itu KOREK diminta untuk memaparkan kegiatan yang telah dilakukan selama 1 bulan, evaluasi mengenai materi bulan lalu, dan sesi ‘curhat’. Peserta banyak menyampaikan pertanyaan yang berasal dari teman di sekolah terkait materi menstruasi khusunya mengenai mitos-mitos dan kepercayaan masyarakat di Pulau Ende. Setelah evaluasi kegiatan selama satu bulan, peserta diminta untuk mempresentasikan poster yang telah dibuat, yang merupakan PR bulan lalu. 1 orang peserta (Ryan) mempresentasikan mengenai pentingnya menjaga kebersihan diri: mandi. Cara penyampaian Ryan telah cukup baik, penguasaan materi cukup, dan poster yang dibuat mewakili hal yang akan disampaikan serta sesuai kondisi Pulau Ende (latar tempat, kondisi alam, dan fasilitas). Setelah Ryan mempresentasikan posternya,  anggota lainnya memberikan saran dan kritikan. Beberapa peserta sudah aktif dalam menyampaikan pendapat, tetapi masih terdapat peserta yang malu menyampaikan pendapat sehingga masih perlu dimotivasi dan ditunjuk.

Materi pada bulan Januari mengenai gizi seimbang. Penyampaian materi gizi seimbang diawlai dengan pembagian lembar piramida gizi seimbang yang akan dibahas satu persatu oleh anggota KOREK, anggota KOREK secara bergantian menyampaikan pendapatnya. Setelah itu dilakukan presentasi dan pembahasan oleh tim PN2 mengenai materi tersebut. Penggunaan food model juga menunjang kegiatan ini sehingga KOREK dapat mengetahui gambaran porsi makanan yang tepat. Diharapkan anak-anak KOREK mampu menyampaikan materi kepada teman sebayanya di sekolah masing-masing. Penyampaian materi mengenai gizi seimbang ini dilatarbelakangi dari fakta di Pulau Ende, bahwa masyarakatnya sangat minim mengonsumsi sayuran dan buah-buahan. Anggota KOREK mengajukan beberapa pertanyaan mengenai kandungan zat gizi, buah-buahan pengganti di Pulau Ende, dan lain sebagainya. Pada akhir pertemuan peserta diingatkan kembali untuk menyampaikan materi kepada teman di sekolah masing-masing dan kepada keluarga. Selain itu peserta juga diminta untuk mempersiapkan poster dan presentasi pada bulan Februari.

Pertemuan bulan Februari dilaksanakan pada Hari Minggu tanggal 16 bertempat di Rumah Kreatif Pulau Ende. Pada bulan Februari ini kegiatan pembinaan dilaksanakan dengan kegiatan yang berbeda dari bulan sebelumnya. Pertemuan kali ini juga dihadiri pihak Puskesmas A.Yani, guru-guru SM3T, dan pengurus Rumah Kreatif Pulau Ende. KOREK diajak menonton film yang bertemakan pendidikan dan motivasi belajar ‘Semesta Mendukung’. Selain itu juga dilakukan sosialisasi program ‘Sabang Merauke’.

Pembinaan KOREK Bulan Februari diawali dengan pemaparan dan evaluasi kegiatan pada Bulan Januari, pembahasan log book, serta presentasi poster dari anggota KOREK. Dua orang anggota KOREK mempresentasikan poster yang dibuat. Tema yang disampaikan Fara dan Tedy mengenai ‘cuci tangan pakai sabun’ dan Joko mengenai ‘membuang sampah pada tempatnya’. Gaya penyampaian materi beragam, ada yang dengan teknik presentasi, dan diskusi. Anggota KOREK lainnya diminta memberikan tanggapan dan masukan kepada yang melakukan presentasi poster. Perkembangan KOREK setiap bulannya terlihat baik. Beberapa anggota KOREK telah memiliki inisiatif untuk tampil dan mengajukan pendapat tanpa ditunjuk, walaupun masih terdapat beberapa anggota yang belum sepenuhnya berani mengungkapkan pendapat. Diharapkan kedepannya KOREK dapat lebih aktif dan kreatif.

Setelah pembahasan poster, peserta diajak untuk mengenal program “Sabang Merauke : Seribu Anak Bangsa Merantau untuk Kembali”. Program pertukaran pelajar anak SMP dengan mengangkat tiga nilai ‘pendidikan, toleransi, dan kebinekaan’. KOREK dikenalkan dan dimotivasi untuk mengikuti program ini, dengan harapan terdapat salah satu anak Pulau Ende yang berhasil menjadi salah satu peserta “Sabang Merauke”. Antusias anggota KOREK sangat baik, mereka mengaku ingin mengikuti program ini dan berharap bisa lolos. Formulir pendaftaran langsung dibagikan ke anggota KOREK yang berminat, selain itu kedepannya KOREK akan didampingi dalam pengisian dan pengiriman  formulir. Selanjutnya KOREK diajak menonton film bertema pendidikan “Semesta Mendukung”. KOREK diminta mengambil makna dari film tersebut dan memaparkan hal-hal yang mereka dapat.  Setelah rangkaian kegiatan selesai, KOREK diminta untuk mempersiapkan tugas untuk bulan Maret. Semoga langkah kecil ini dapat menjadi modal agar remaja Pulau Ende menjadi lebih maju, aktif, kreatif, dan inspiratif, langkah awal bagi perubahan Pulau Ende yang lebih baik. ^_^

Peringatan Hari Aids Sedunia

aidsSeparuh penderita HIV/AIDS adalah remaja, dan penularannya diperluas oleh penggunaan narkoba dengan alat suntik. Tantangan remaja saat ini lebih bervariasi, mulai dari tantangan internal dalam diri remaja itu sendiri (fisik dan psikis), hingga tantangan eksternal seperti lingkungan rumah, kesehatan, pergaulan global, kemajuan teknologi, dan bahkan kemiskinan. Survey Komnas Perlindungan Anak pada tahun 2008 di 33 provinsi menyimpulkan bahwa 97% remaja SMP dan SMA pernah menonton fil porno, 93,7% remaja SMP dan SMA pernah melakukan genetalia stimulation (merava alat kelamin) dan oral seks, 62,7% remaja SMP dan SMA tidak perawan, dan 21,2% remaja mengaku pernah aborsi.

Salah satu indikasi tingginya angka remaja terkena HIV/AIDS ialah adanya keterbatasan pemahaman remaja dan orang tua mengenai kesehatan reproduksi (komunikasi dan informasi tentang pendidikan seks), menurunnya nilai-nilai agama, sosial dan budaya di lingkungan remaja, serta kemudahan remaja dalam mengakses informasi dari media massa mengenai seks dan kekerasan. WHO memperkirakan perkembangan HIV/AIDS setiap harinya terjadi sekitar 14.000 kasus baru atau setiap detiknya akan ada 9 kasus. Dari jumlah kasus-kasus diketahui, diperkirakan sekitar 52.000 orang dewasa dan anak-anak telah hidup dengan HIV/AIDS.

Menurut data yang diperoleh melalui Dinas Kesehatan Kabupaten Ende, Kecamatan Pulau Ende merupakan salah satu dari dua kecamatan di Kabupaten Ende yang bebas dari angka kejadian HIV/AIDS. Hal ini patut dipertahankan agar kedepannya Kecamatan Pulau Ende tetap menjadi kecamatan yang bebas dari HIV/AIDS. Benteng pertahanan yang perlu dibuat pada saat ini salah satunya melalui remaja. Seperti yang kita ketahui bahwa masa remaja merupakan masa yang sangat rentan; masa mengeksplorasi, dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, serta ingin mencoba hal baru pada masa ini. Keterbatasan pengetahuan yang dimiliki remaja dikhawatirkan membuat mereka mencari tahu informasi secara tidak benar melalui internet maupun media lainnya yang berdampak fatal. Seperti yang kita ketahui bahwa akses internet saat ini begitu mudah diperoleh, tak terkecuali di Kecamatan Pulau Ende.

Upaya promotif dan preventif tepat dilakukan pada saat ini. Peringatan hari AIDS Sedunia ini tidak hanya merupakan seremonial belaka, tetapi ada nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, melalui tema “Aku Sehat, Aku Berilmu, dan Aku Bertakwa” diharapkan remaja Pulau Ende mampu menjadi pribadi yang memiliki pengetahuan serta perilaku yang baik dalam menghindari HIV/AIDS dan NAPZA. Diharapkan kegiatan peringaan Hari AIDS Sedunia khususnya melalui pendidikan  kesehatan dapat memberikan informasi yang tepat mengenai perkembangan reproduksi remaja, HIV/AIDS, dan NAPZA bagi remaja dan pendidik di Kecmatan Pulau Ende serta menjadi salah satu langkah menuju Pulau Ende Sehat 2015.

Kegiatan berlangsung pada tanggal 7 Desember 2013 di SMP Negeri 2 Nangapanda. Peserta kegiatan berasal dari  SMP se-Kecamatan Pulau Ende, yang terdiri dari 20 orang perwakilan siswa, 2-5 orang perwakilan guru, 15 orang Kelompok Remaja Kreatif, dan rekan-rekan SM3T.

Kegiatan dimulai dengan pencairan suasana dan perkenalan baik dari pihak Panitia (Pencerah Nusantara, Mercy Corps Indonesia, dan Puskesmas Ahmad Yani) dan dari pihak peserta. Kemudian peserta diberikan materi mengenai kesehatan reporoduksi remaja yang disampaikan oleh dr. Sri Putri Nesia. Penyampaian materi dikemas secara menarik,  pada sesi ini perwakilan peserta diminta menuliskan perubahan yang terjadi baik secara fisik maupun psikis pada masa  remaja. Peserta yang berani mengungkapkan pendapatnya berhak mendapatkan doorprice berupa stiker langkah cuci tangan pakai sabun, buku, botol minum, dan lain-lain. Sebagian peserta telah terlibat aktif, tetapi masih banyak peserta lain yang terlihat malu dan belum berani mengungkapkan pendapat.

Materi selanjutnya mengenai NAPZA, HIV/AIDS. Materi diberikan oleh Hyasintus Ronald Dori, seseorang yang pernah bergabung di LSM HIV/AIDS di daerah NTT. Materi yang diberikan berupa video kesaksian ODHA dan kemasan materi menganai NAPZA dan HIV/AIDS untuk remaja. Penyampaian materi lebih bersifat interaktif. Peserta yang aktif terlibat sebagian besar merupakan kelompok remaja kreatif (KOREK) yang dibentuk saat kegiatan Pasantren Pencerah, diharapkan kelompok ini mampu menyebarkan semangat dan pengetahuan ke teman sebayanya.

Pada sesi motivasi bagi remaja Pulau Ende yang disampaikan oleh Lukmanul Hakim, diputarkan 2 buah video yang diharapkan mampu meningkatkan motivasi dan semangat remaja Pulau Ende agar lebih berpresatasi, dan mampu bersaing dengan generasi muda lainnya di seluruh Indonesia. Remaja Pulau Ende diharapkan memiliki cita-cita dan mimpi yang kelak akan mereka raih melalui kemauan dan usaha yang dimulai dari sekarang. Diharapkan mereka akan berpresatasi dan memandang kehidupan kedepan dan tidak hanya terfokus pada kekurangan yang dihadapi saat ini.

Acara terakhir diisi dengan materi cuci tangan pakai sabun yang disampaikan oleh M.Agung Fitrianto, Project Officer program WOW Mercy Corps Indonesia untuk Pulau Ende. Penyampaian materi cuci tangan pakai sabun merupakan hal yang penting di kalangan remaja karena hal ini merupakan salah satu pilar yang ingin dicapai dalam rangka menuju Pulau Ende Sehat 2015. Diharapkan perubahan perilaku dapat dimulai dari kalangan anak dan remaja yang akan memutus mata rantai permasalahan kesehatan di Pulau Ende. Materi CTPS yang diberikan berupa waktu kritis mencuci tangan, langkah-langkah mencuci tangan, dan manfaat mencuci tangan. Selain itu peserta juga melakukan senam cuci tangan yang dipimpin oleh panitia kegiatan. Peserta terlihat antusias dalam melakukan senam cuci tangan dan menerima materi.

Secara keseluruhan acara peringatan Hari AIDS Sedunia berjalan dengan lancar dan kondusif, serta promosi kesehatan telah tersampaikan dengan baik. Sebagian peserta telah terlibat aktif, walaupun masih terdapat yang masih ragu dalam mengungkapkan pendapat dan belum berani unjuk gigi. Kedepannya diharapkan remaja Pulau Ende menjadi remaja yang sehat, berilmu, dan bertakwa serta lebih aktif, berani, dan percaya diri.

#uchuSefti

final bookmrkllll

 

 

 

 

 

 

 

 

Profil PN2 (5 Semangat Baru Untuk Pulau Ende)

Gambar

Dr Sri Putri Nesia

Dokter asal FK Unand angkatan 2006, menjalani pendidikan dasar di Padang, pendidikan lanjutan di Bukittinggi dan kembali ke Padang untuk kuliah, selanjutnya selama setahun menjalani program internship di Payakumbuh hingga akhir Mei 2013. Sri yang akrab dipanggil Cei kelahiran 1989 ini menyukai petualangan dan berinteraksi dengan orang-orang baru, hal ini yang memotivasi Sri untuk menjadi salah satu dari team pencerah nusantara. Ketika duduk di bangku kuliah Cei aktif diorganisasi CIMSA (Center for Indonesian Student Avtivities) FK Universitas Andalas dan FSKI (Forum Studi Kedokteran Islam).

dr. Sri Putri Nesia

Dewi Seftiani Nugrahini

Dewi Seftiani Nugrahini gadis kelahiran 23 September 1989 ini merupakan bungsu dari lima bersaudara. Gadis yang biasa disapa Sefti ini berasal dari Ketapang Kalimantan Barat, dia telah meninggalkan kota kelahirannya dan memilih merantau sejak SMA. Sefti merupakan alumni SMA Taruna Bumi Khatulistiwa Pontianak, serta menyelesaikan pendidikan S1 Keperawatan dan Profesi Ners di Universitas Padjadjaran. Sefti telah terlibat aktif di berbagai organisasi sejak sekolah dasar. Semasa sekolah, organisasi yang diikuti seperti Pramuka, OSIS, MPK,Korps Siswa Taruna, dan Forum Anak Indonesia. Selama berkuliah organisasi yang diikuti seperti Padjajaran Nursing Corps sebuah organisasi yang bergerak dalam bidang pertolongan pertama, Departemen Penalaran BEM FIK UNPAD dan ROHIS Quwwatul ‘Azzam. Sefti memiliki hobi memasak, traveling dan membaca.

Dewi Seftiani Nugrahini, S.Kep., Ners.

Nuraini Irawati

Ira bidan asal kota Solo, kelahiran 27 Agustus 1990.  Lulusan DIV Bidan Pendidik FK Universitas Sebelas Maret Surakarta angkatan 2008. Ira hobi traveling. Sempat bergabung dengan beberapa organisasi diantaranya Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), asisten skill lab kebidanan FK UNS, Korps Suka Rela (KSR) PMI unit Solo dan relawan medis Rumah Zakat Solo. Dua bulan sebelum wisuda Ira sempat magang di Rumah Bersalin Gratis Solo Peduli. Sebelum mengikuti Pencerah Nusantara, dari September 2012 hingga april 2013 bekerja sebagai asisten dokter spesialis kandungan, akhir april hingga juni terpilih menjadi petugas enumerator Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2013 di Kabupaten Sukoharjo.

Nuraini Irawati, S.ST

Enrika Rahayu Setyani

Sarjana gizi lulusan universitas Indonesia angkatan 2009 ini lahir di Bogor 26 Oktober 1990. Wanita berdarah Betawi-Jawa ini merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Sejak kecil Enrika yang biasa dipanggil Anyo sudah aktif dalam berbagai kegiatan yaitu seni tari dan paskibra. Selama menjalani kuliah Anyo aktif dalam kegiatan organisasi mahasiswa yaitu BEM FKM UI dan Himpunan Mahasiswa Gizi UI. Anyo pernah menjalani internship di RSUP dr Sardjito Yogyakarta dan wilayah kerja Puskesmas Pasir Putih Depok. Wanita yang mencintai Public Health ini juga pernah mengabdikan diri dengan berpartisi dalam K2N UI di Oepoli, pintu perbatasan NKRI-Timor Leste.

Enrika Rahayu Setyani, S.Gz

Lukmanul Hakim

DSC_ (12)

Lukmanul Hakim lahir di Pangkalan Batang Bengkalis Riau. Besar di kota kecil Bengkalis menghabiskan masa remaja di kota tersebut, sempat menempuh pendidikan D3 Keperawatan di AKPER Binjai Sumut tahun 2007 lalu melanjutkan pendidikan S1 di FKM USU Medan di bidang Ilmu Kesehatan Masyarakat pada tahun 2010 dan menyelesaikan  pendidikan S1 pada akhir 2012. selama bangku perkuliahan sering mengikuti kegiatan research dibidang kesehatan ke daerah yang terpencil.  Setelah saya mengetahui pencerah nusantara, kegiatan ini seakan memanggil saya untuk bergabung dalam kesmepatan untuk mengabdi ke masyarakat melalui upaya yang di inisiasi oleh pencerah nusantara khususnya peningkatan taraf hidup manusia di bidang kesehatan dalam pencapaian target MDGs (Millenium Development Goals). Selain itu juga saya sangat menyenangi dunia fotografi yang mulai ditekuni sejak tahun 2010 hingga saat ini. Salam pencerah.