Merajut Mimpi di Bumi Flobamorata

 “ Apakah yang saya kerjakan sekarang akan membuat perubahan yang menentukan dalam jangka panjang?”

Kiranya pertanyaan ini untuk mengungkapkan apa yang menjadi pemikiran saya sejak resmi dilantik sebagai Pencerah Nusantara angkatan ke-3. Saya benar-benar ingin merasa punya makna dalam satu tahun masa bakti, bahwa entah bagaimana segalanya akan berbeda karena saya ada disini di Kecamatan Pulau Ende Kabupaten Ende, Flores, NTT.

Merujuk pada tujuan akhir akan mimpi mewujudkan perubahan nyata menjadi lebih baik, khususnya di bidang kesehatan dan menyentuh masyarakat di daerah-daerah yang terlupakan, saya bersama empat rekan satu tim Nusa Ende berupaya menghadirkan sekelumit kisah akan sebuah pengabdian yang berlandaskan optimisme dan perjuangan. Sebuah pengabdian yang menguji bagaimana kami bertahan menghadapi hambatan yang bisa kapan saja meredam gaung panggilan pengabdian kami.

Tulisan ini saya buat setelah saya menjalani 2 bulan masa penugasan, saya merasa ada begitu banyak hal yang harus dikerjakan. Satu tahun bukanlah waktu yang panjang, berkejaran dengan waktu kami memulai langkah dengan membuat sistem perencanaan. Kami menyadari bahwa kami memerlukan tingkatan perencanaan yang baru, tingkatan berpikir yang lebih dalam, sebuah paradigma yang didasari oleh prinsip-prinsip yang secara akurat menjabarkan fakta yang sebenarnya terjadi. Ketika kami memandang ke sekeliling kami, mengamati masyarakat Pulau Ende dengan segala perbedaan sosial budaya, mengenali masalah-masalah yang terjadi maka kami mulai sadar bahwa semua ini adalah masalah yang mendalam dan mendasar yang tidak dapat kami pecahkan secara dangkal saja.

Hambatan terbesar muncul ketika kami dihadapkan pada persoalan sumber daya manusia, bagaimana kami harus menghadapi orang-orang yang sekalipun tahu situasi masalah sebenarnya namun tetap diam tidak tergerak melakukan langkah perubahan bahkan cenderung mengikuti arus kemunduran. Namun, disisi lain kamipun yakin bahwa ada orang-orang yang jauh lebih peka yang mungkin menyadari masalah yang lebih mendalam dan mengulurkan tangannya untuk membantu. Maka, merekalah orang-orang yang mampu melihat masalah sekaligus berpotensi sebagai agen perubahan kami coba gerakkan dan berdayakan. Dan sungguh, mereka semua adalah orang-orang yang mengagumkan, orang-orang yang sangat ingin mencapai tahapan perbaikan bagi masyarakat sekitarnya meskipun dihadang dengan segala keterbatasan yang ada. Mereka adalah orang-orang yang bersedia mencari sesama yang membutuhkan bantuan sekaligus ingin membuktikan bahwa plesetan yang bernada ejekan dan pesimis bahwa NTT adalah kepanjangan dari “ Nusa Tetap Tertinggal, Nasib Tidak Tentu atau Nanti Tuhan Tolong”, tidak benar adanya.

Bersama, kami semua mencoba menjadikan masyarakat Pulau Ende mandiri dalam bidang kesehatan, bagaimana prinsip tentang pelayanan yang seharusnya didapatkan masyarakat benar-benar dapat dijalankan, bagaimana masyarakat dapat mulai memahami potensi yang ada dalam diri dan lingkungan mereka sendiri sebagai modal kemajuan kesehatan dan kesejahteraan mereka bukan mengandalkan bantuan pusat. Pada saat yang sama, saya menyadari bahwa upaya perbaikan dalam bidang kesehatan tentunya juga harus dilandasi oleh suatu kebiasaan melakukan upaya kesehatan oleh masyarakat itu sendiri. Kebiasaan adalah faktor yang kuat dalam hidup kita, keunggulan dalam bidang kesehatan bukanlah suatu perbuatan melainkan hasil dari kebiasaan-kebiasaan hidup masyarakat yang menempatkan kesehatan sebagai bagian dari kehidupan mereka. Akan tetapi, saya juga menyadari bahwa kebiasaan ini tidak dapat diciptakan dengan segera, diperlukan suatu proses dan komitmen yang luar biasa untuk itu.

“Taburlah gagasan, tuailah perbuatan; taburlah perbuatan, tuailah kebiasaan; taburlah kebiasaan, tuailah karakter; taburlah karakter, tuailah nasib,”

begitulah bunyi pepatah yang kiranya kami semua harus resapi sebagai motivasi perjalanan langkah kami disini, dibumi Flobamorata- NTT.

Rumah-rumah di pesisir Pulau Ende

Rumah-rumah di pesisir Pulau Ende

Seorang ibu sedang duduk santai di dipan rumahnya

Seorang ibu sedang duduk santai sambil menjaga anak-anaknya di dipan rumahnya

Bidan Mega menjelaskan manfaat Buku KIA pada ibu dengan balita di Dusun Tanjung

Bidan Mega menjelaskan manfaat Buku KIA pada ibu dengan balita di Dusun Tanjung

Pulau Ende, 18 Nopember 2014.

Oleh: Bd. Mega Faridatun Nisak

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s