Bupati Ende: Komitmen Bersama Peduli Perokok Pasif “Hari Tanpa Tembakau Se-Dunia”

Bebas dari polusi udara adalah impian setiap orang yang bernyawa. Salah satu implementasinya adalah udara bebas dari asap rokok. Tidak perlu ditanya lagi apa efek rokok bagi ekonomi, kesehatan, dan sosial. Telah banyak penelitian yang mengangkat topik tersebut dan sudah banyak warga Indonesia yang mulai sadar terhadap dampak negatif rokok dan asapnya.

Kita semua tahu bahwa perokok memiliki resiko tinggi mengidap berbagai penyakit yang diakibatkan rokok. Namun, yang lebih menghawatirkan adalah orang yang berada di sekitar perokok yang menghisap asap rokok (baca: prokok pasif).  Memang benar, perokok pasif tidak mengeluarkan uang untuk menghisap asap rokok, mereka secara Cuma-Cuma menghirup asap rokok beracun itu. Tapi tahukan anda bahwa mereka, perokok pasif, memiliki resiko lebih tinggi dari perokok aktif dalam kaitannya menderita penyakit yang akan menyerang perokok pasif.

Mereka, perokok pasif, beresiko 4 kali lebih besar mendapatkan serangan jantung, beresiko 14 kali lebih besar menderita kanker paru, kanker mulut, dan kanker tenggorokan. Wanita hamil yang menghisap asap rokok berpotensi melahirkan bayi prematur, berat badan lahir rendah, dan kematian bayi. Asap rokok memiliki 2 kali konsentrasi nikotin dan tar, 3 kali jumlah zat karsinogenik, 5 kali kadar karbonmonoksida dan 50 kali jumlah amonia pada rokok (BPOM RI).

Kita harus tahu bahwa 85% orang Indonesia terpapar asap rokok di dalam rumah, 78% di tempat makan, dan 75% di tempat kerja (KEMKES). Beberapa waktu lalu Kementerian Kesehatan Republik Indonesia telah menerbitkan iklan layanan masyarakat yang secara khusus diciptakan dalam rangka menekan angka perokok aktif dan meningkatkan kepedulian terhadap perokok pasif.

Menjawab tantangan dan mendukung program Kementerian Kesehatan RI, Bupati Kabupaten Ende (Ir. Marcelinus Y.W. Pettu) menandatangani Spanduk Komitmen Peduli Perokok Pasif. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada hari sabtu, 30 Mei 2015 dalam rangka Bulan Bakti Gotong Royong Masyarakat dan menyongsong Hari Tanpa Tembakau Se-Dunia 31 Mei 2015. Kegiatan ini diinisiasi oleh Pencerah Nusantara Pulau Ende bekerjasama dengan kegiatan BBGRM Kab. Ende dengan dihadiri oleh seluruh camat & SKPD di Kab. Ende. Prosesi tersebut berlangsung di Pulau Ende, yang merupakan satu-satunya wilayah kecamatan di Nusa Tenggara Timur yang memiliki peraturan SK Camat tentang Kawasan Tanpa Rokok. Tidak hanya Bupati, ikut serta dalam penandatanganan tersebut adalah Wakil Bupati Ende (Drs. H. Djafar, M.M.) , Anggota DPRD Kabupaten Ende (Hamsi Said, S.Pd.), Camat Pulau Ende (Usman Husen, SH.), dan perwakilan tokok pemuda, tokoh wanita, serta masyarakat umum yang memiliki kepedulian terhadap perokok pasif.

Jpeg

Bupati Kab. Ende Menandatangani Komitmen Peduli Perokok Pasif

Jpeg

Anggota DPRD Menandatangani Komitmen Peduli Perokok Pasif

Jpeg

Camat Pulau Ende Menandatangani Komitmen Peduli Perokok Pasif

Penandatangan ini secara otomatis diikuti oleh kompensasinya berupa menghargai perokok pasif dengan tidak merokok sembarangan yang menyebabkan orang lain menghirup asap rokok perokok aktif. Seperti yang telah dimulai di Pulau Ende, perokok aktif tidak diperbolehkan merokok di tempat-tempat umum seperti, sekolah, puskesmas, pustu, masjid, mushala, kapal motor, posyandu, tempat hajatan, tempat anak bermain, dan di rumah terutama dekat anak-anak dan ibu hamil.

Kegiatan tersebut dilengkapi dengan pameran poster peduli perokok pasif, dan dokumentasi kegiatan implementasi KTR di Pulau Ende. Prosesi ini semata-mata bertujuan untuk meningkatkan komitmen dan animo pemerintah dan masyarakat untuk Peduli Perokok Pasif yang selama ini menjadi korban takbersalah dari perokok aktif. Harapannya semoga masyarakat Indonesia, pada khususnya masyarakat Ende & Pulau Ende semakin sadar bahwa merokok adalah sesuatu yang penuh kemudharatan dan pastinya perokok aktif semakin bijak dalam berperilaku (baca: merokok).

7 KTR Map copy

Adzkarul Khaq (MS) ][ Pencerah Nusantara Pulau Ende.

Advertisements

Yuk, Belajar Makan Makanan yang Aman !

Anak sekolah identik dengan jajan. Jajanan telah menjadi bagian hidup yang tidak bisa dipisahkan dari anak sekolah. Mulai dari tingkat Sekolah Dasar (SD) sampai Sekolah Menengah Atas (SMA). Populasi terbesar berada ditingkat SD sebanyak 18.000 sekolah yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia. Jajanan dapat ditemui di kantin sekolah, penjaja makanan keliling, maupun pedagang kaki lima yang setia menjajakan di depan sekolah.

Pertanyaan yang muncul sekarang ialah “Apakah makanan jajanan tersebut aman dan menyehatkan jika dikonsumsi anak?”

Belum tentu. Berdasarkan data Balai Besar Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang dilakukan terhadap pangan jajanan anak sekolah pada tahun 2009 diketahui hanya sebesar 57,36% yang memenuhi syarat keamanan pangan sekolah. Sisanya, tidak memenuhi syarat dikarenakan mengandung bahaya makanan (biologi, kimia, dan benda asing).

Upaya yang dilakukan untuk mengatasi fenomena tersebut, BPOM menginisiasi adanya Aksi Nasional Pangan Jajanan Anak Sekolah (AN-PJAS) melalui pencanangan oleh Bapak Wakil Presiden RI pada tanggal 31 Januari 2011. Sejak pencanangannya, sebanyak 16.993 sekolah dari 18.00 sekolah di Indonesia telah mendapat intervensi sampai akhir tahun 2014. Intervensi yang dilakukan meliputi pengawasan, pembinaan, dan pengawalan. Salah satu outputnya ialah dengan adanya Tim Keamanan Pangan Sekolah (Tim KPS) yang terdiri dari kepala sekolah, guru UKS, dan siswa. Pencapaian intervensi sampai dengan tahun 2014 menunjukkan tren peningkatan signifikan yaitu 80,79% pangan jajanan yang memenuhi syarat keamanan pangan.

Salah satu wilayah yang belum mendapat intervensi AN-PJAS ialah Kecamatan Pulau Ende, yang masuk dalam wilayah DTPK (Daerah Terpencil, Perbatasan, dan Kepulauan). Pulau Ende memiliki 8 SD yang tersebar di 9 Desa. Namun, belum satu pun sekolah yang mendapat intervensi. Sebagai wujud partisipasi aktif masyarakat, Pencerah Nusantara angkatan 3 menginisiasi kegiatan untuk mensosialisasikan Keamanan Pangan Jajanan di Sekolah melalui metode penyuluhan kelompok.

Penyuluhan dibagi ke dalam dua periode. Periode satu sebanyak 4 sekolah yaitu SDI Rendomaupandi, MIS Nurul Ummah Pulau Ende, SDI Metinumba 2, dan SDI Metinumba 1. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 8-13 Mei 2015.

Sosialisasi 5 Kunci Keamanan Pangan Jajanan Sekolah di SDI Rendomaupandi

Sosialisasi 5 Kunci Keamanan Pangan Jajanan Sekolah di SDI Rendomaupandi

Sosialisasi di MIS Nurul Ummah Pulau Ende

Sosialisasi di MIS Nurul Ummah Pulau Ende

Materi keamanan pangan jajanan sekolah yang disampaikan menekankan pada pentingnya mengetahui 5 Kunci Keamanan Pangan Jajanan di Sekolah. Materi juga meliputi jenis-jenis pangan jajanan sekolah, syarat makanan aman, hingga bahaya-bahaya pada makanan.

Kami memulai materi dengan pertanyaan pemicu:

“Siapa di sini yang suka jajan? Ayo, angkat tangannya !”

Ya, seperti dugaan semua anak tanpa terkecuali mengangkat tangannya.

Pemicuan dilanjutkan dengan pertanyaan:

“Siapa di sini yang tahu syarat makanan yang aman?”

Nah, kalau ini sejenak mereka hening dan berpandangan satu sama lain sambil berbisik seolah tahu jawabannya. Kami pun mencoba memicu mereka untuk mencoba menjawab. Satu per satu jawaban pun muncul.

Mari sedikit kita bahas materi keamanan pangan !

Media edukasi Keamanan Pangan Jajanan di Sekolah

Media edukasi Keamanan Pangan Jajanan di Sekolah

Keamanan pangan ialah kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia, dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia (BPOM RI). Syarat makanan yang aman ialah yang terbebas dari bahaya pangan, yaitu bahaya biologi, kimia, dan fisik (benda asing).

5 Kunci Keamanan Pangan Jajanan di Sekolah yang patut dipahami oleh tiap anak sekolah yang dipublikasikan oleh BPOM ialah sebagai berikut :

  • Kunci 1 : Kenali pangan yang aman
  • Kunci 2: Beli pangan yang aman
  • Kunci 3: Baca label dengan seksama
  • Kunci 4: Jaga kebersihan
  • Kunci 5: Catat apa yang ditemui

Setelah materi disampaikan, kami melanjutkan dengan sesi kuis berhadiah. Sebanyak 7 hadiah disiapkan bagi siswa yang bisa menjawab pertanyaan seputar materi yang disampaikan. Mereka sangat antusias dan tidak sabar menjawab.

Yeay, saatnya pembagian hadiah !

Yeay, saatnya pembagian hadiah ! Selamat ya, Dek !

Kami selalu percaya kalau sehat itu berawal dari makanan yang kita konsumsi. Makanan yang sehat harus aman, bergizi, dan beragam.

Jadilah konsumen yang cerdas dan cermat.

Yuk, makan makanan yang aman !!

Salam Sehat, Sehat Luar Biasa !

Sekarang kami tahu dan pilih makanan yang aman ! Hore~~

Sekarang kami tahu dan pilih makanan yang aman ! Hore~~

Oleh: Ns. Nikita Dewayani

BIAS Mau ‘Au

Bulan November ini bertepatan dengan bulannya imunisasi anak sekolah (BIAS) di Kecamatan Pulau Ende. BIAS merupakan program pemerintah untuk meningkatkan cakupan imunisasi pada anak usia sekolah dasar, khususnya kelas 1-3 . Hari ini Tim Pencerah Nusantara (Ners Niki dan Bidan Mega)  dan Kak Dian (perawat PKM A. Yani) bertugas memberi imunisasi ke SDN Mau ‘Au yang merupakan satu-satunya sekolah dasar di Dusun Mau’Au. Dusun Mau ‘Au merupakan Dusun dengan akses tersulit di Kecamatan Pulau Ende karena terletak di balik bukit berpasir dengan topografi yang naik turun. Untuk menjangkaunya kami menggunakan ojek yang hanya dapat dilalui sampai jalan setapak kurang 100 m dari SDN Mau ‘Au, yang dilanjutkan dengan jalan kaki di atas jalan turunan berpasir. Kami harus secara perlahan berjalan menuju depan SDN Mau ‘Au. Sepanjang perjalanan ke dusun ini, kami disuguhkan dengan medan yang cukup menguji ketahanan jantung. Rute naik turun bukit dengan kemiringan hampir 90 derajat. Bagi yang pertama kali kesini, mungkin akan merasa ngeri dan takut jatuh seperti pengalaman saya sewaktu pertama kali ke sini 2 bulan lalu. Tapi, jangan khawatir. Semua terbayar dengan pemandangan pantai dari atas bukit yang luar biasa indah sepanjang perjalanan dari Desa Aejeti, Kazokapo, hingga tiba di Mau ‘Au.

Sepanjang kami berjalan di Mau ‘Au hampir tidak kami temui adanya jalan dengan permukaan datar. Hampir semua permukaan jalan berada pada kemiringan 30-45 derajat dengan permukaan tanah berpasir. Kebayang kan kalau naik motor disini. Hebatnya, karena sudah terbiasa dengan medan begitu penduduk Mau ‘Au bisa saja melewati jalan berpasir itu dengan motor. Meski memang debunya berhamburan hingga harus menggunakan masker untuk bisa bernapas lega. Gak heran juga kalau di sini angka morbiditas ISPA (infeksi saluran pernapasan akut) cukup tinggi.

Pemandangan di sepanjang jalan Desa Aejeti

Pemandangan di sepanjang jalan Desa Aejeti

Jalan menuju SDI Mau 'Au

Jalan menuju SDI Mau ‘Au

SDN Mau ‘Au terletak di Mu ‘Au bawah yang berhadapan dengan laut lepas hanya memiliki 6 ruang kelas dan 2 ruang guru dengan kondisi yang serba keterbatasan. Satu kelas hanya diisi 18-20 siswa. Saya masuk ke ke ruang kelas 1, 2, dan 3. Kelas satu hanya berjumlah 18 anak, namun saat kami datang ada 3 anak yang tidak hadir dengan tanpa keterangan. Kelas 2 dan 3 berjumlah 21 orang. Kondisi kelas yang hanya dibatasi papan triplek dengan dinding sebagian tembok. Papan tulis pun masih menggunakan kapur. Anak-anak duduk menyambut kedatangan kami. Lucunya, ada satu anak yang langsung tampak ketakutan dan hampir menangis. Ia nampaknya sudah menangkap sinyal kedatangan kami untuk melakukan imunisasi, yang artinya akan disuntik. Ah, sedetik itu pun saya langsung teringat dengan masa SD saya saat tiba waktu imunisasi. Saya memang tidak pernah kabur saat diimunisasi, tapi saya takut jarum. Alhasil, saya memeluk erat guru saya saat disuntik. Yang penting diimunisasi kan, pikir saya. Hehe :p

Siswa/i SDI Mau 'Au saat menerima kedatangan Tim Pencerah Nusantara dan Puskesmas Achmad Yani

Siswa/i SDI Mau ‘Au saat menerima kedatangan Tim Pencerah Nusantara dan Puskesmas Achmad Yani

Kami pun memperkenalkan diri satu per satu. Kami membagi tugas : Kak Dian penyuluhan imunisasi, saya dan Mba Mega menyiapkan vaksin dalam spuit. Sementara Kak Dian memberi penyuluhan tentang pentingnya imunisasi pada siswa menggunakan bahasa Ende, saya dan Mba Mega dengan cekatan menyiapkan vaksin dalam spuit sejumlah siswa. Nama pun satu per satu dipanggil. Hebatnya, mereka dengan berani duduk di atas kursi dan melipat lengan bajunya sendiri.

Anak-anak yang siap menunggu diimunisasi

Anak-anak yang siap menunggu diimunisasi

Saya : Sakit sedikit yah. Meringis boleh, tapi jangan nangis. Nanti tambah sakit. Kakak suntik yah. Kalau takut merem, kalau berani boleh lihat. Bismillah.

Siswa : (melihat ke arah lengan yang akan disuntik)

Tapi, yang namanya juga anak-anak tetap saja ada rasa takut. Terlihat dari tangannya yang tegang saat saya pegang. Hanya satu dua anak saja yang menerang tidak mau disuntik, tapi pada akhirnya mau dengan bantuan guru kelas.

Setiap anak yang tidak menangis saat disuntik saya jadikan ia motivator bagi teman-temannya yang akan disuntik.

Saya : Tuh kan gak sakit kan?

Siswa yang sudah disuntik : (mengangguk malu)

Saya : Ayo, yang lain pasti berani . Kalo berani pasti gak sakit. Yuk maju berikutnya !

Ners Niki memberikan injeksi vaksin DT ke siswa

Ners Niki memberikan injeksi vaksin DT ke siswa

Setelah ke-39 anak tersebut diimunisasi, kami pun berkumpul dan tak lupa berfoto bersama. Kami mengucapkan terima kasih dan apresiasi atas keberanian mereka untuk disuntik.

Foto bersama setelah imunisasi

Foto bersama setelah imunisasi

Sehat-sehat yah Dek. Sampai jumpa tahun depan di BIAS berikutnya !

Kalian Hebat !

Oleh: Ns. Nikita Dewayani

Merajut Mimpi di Bumi Flobamorata

 “ Apakah yang saya kerjakan sekarang akan membuat perubahan yang menentukan dalam jangka panjang?”

Kiranya pertanyaan ini untuk mengungkapkan apa yang menjadi pemikiran saya sejak resmi dilantik sebagai Pencerah Nusantara angkatan ke-3. Saya benar-benar ingin merasa punya makna dalam satu tahun masa bakti, bahwa entah bagaimana segalanya akan berbeda karena saya ada disini di Kecamatan Pulau Ende Kabupaten Ende, Flores, NTT.

Merujuk pada tujuan akhir akan mimpi mewujudkan perubahan nyata menjadi lebih baik, khususnya di bidang kesehatan dan menyentuh masyarakat di daerah-daerah yang terlupakan, saya bersama empat rekan satu tim Nusa Ende berupaya menghadirkan sekelumit kisah akan sebuah pengabdian yang berlandaskan optimisme dan perjuangan. Sebuah pengabdian yang menguji bagaimana kami bertahan menghadapi hambatan yang bisa kapan saja meredam gaung panggilan pengabdian kami.

Tulisan ini saya buat setelah saya menjalani 2 bulan masa penugasan, saya merasa ada begitu banyak hal yang harus dikerjakan. Satu tahun bukanlah waktu yang panjang, berkejaran dengan waktu kami memulai langkah dengan membuat sistem perencanaan. Kami menyadari bahwa kami memerlukan tingkatan perencanaan yang baru, tingkatan berpikir yang lebih dalam, sebuah paradigma yang didasari oleh prinsip-prinsip yang secara akurat menjabarkan fakta yang sebenarnya terjadi. Ketika kami memandang ke sekeliling kami, mengamati masyarakat Pulau Ende dengan segala perbedaan sosial budaya, mengenali masalah-masalah yang terjadi maka kami mulai sadar bahwa semua ini adalah masalah yang mendalam dan mendasar yang tidak dapat kami pecahkan secara dangkal saja.

Hambatan terbesar muncul ketika kami dihadapkan pada persoalan sumber daya manusia, bagaimana kami harus menghadapi orang-orang yang sekalipun tahu situasi masalah sebenarnya namun tetap diam tidak tergerak melakukan langkah perubahan bahkan cenderung mengikuti arus kemunduran. Namun, disisi lain kamipun yakin bahwa ada orang-orang yang jauh lebih peka yang mungkin menyadari masalah yang lebih mendalam dan mengulurkan tangannya untuk membantu. Maka, merekalah orang-orang yang mampu melihat masalah sekaligus berpotensi sebagai agen perubahan kami coba gerakkan dan berdayakan. Dan sungguh, mereka semua adalah orang-orang yang mengagumkan, orang-orang yang sangat ingin mencapai tahapan perbaikan bagi masyarakat sekitarnya meskipun dihadang dengan segala keterbatasan yang ada. Mereka adalah orang-orang yang bersedia mencari sesama yang membutuhkan bantuan sekaligus ingin membuktikan bahwa plesetan yang bernada ejekan dan pesimis bahwa NTT adalah kepanjangan dari “ Nusa Tetap Tertinggal, Nasib Tidak Tentu atau Nanti Tuhan Tolong”, tidak benar adanya.

Bersama, kami semua mencoba menjadikan masyarakat Pulau Ende mandiri dalam bidang kesehatan, bagaimana prinsip tentang pelayanan yang seharusnya didapatkan masyarakat benar-benar dapat dijalankan, bagaimana masyarakat dapat mulai memahami potensi yang ada dalam diri dan lingkungan mereka sendiri sebagai modal kemajuan kesehatan dan kesejahteraan mereka bukan mengandalkan bantuan pusat. Pada saat yang sama, saya menyadari bahwa upaya perbaikan dalam bidang kesehatan tentunya juga harus dilandasi oleh suatu kebiasaan melakukan upaya kesehatan oleh masyarakat itu sendiri. Kebiasaan adalah faktor yang kuat dalam hidup kita, keunggulan dalam bidang kesehatan bukanlah suatu perbuatan melainkan hasil dari kebiasaan-kebiasaan hidup masyarakat yang menempatkan kesehatan sebagai bagian dari kehidupan mereka. Akan tetapi, saya juga menyadari bahwa kebiasaan ini tidak dapat diciptakan dengan segera, diperlukan suatu proses dan komitmen yang luar biasa untuk itu.

“Taburlah gagasan, tuailah perbuatan; taburlah perbuatan, tuailah kebiasaan; taburlah kebiasaan, tuailah karakter; taburlah karakter, tuailah nasib,”

begitulah bunyi pepatah yang kiranya kami semua harus resapi sebagai motivasi perjalanan langkah kami disini, dibumi Flobamorata- NTT.

Rumah-rumah di pesisir Pulau Ende

Rumah-rumah di pesisir Pulau Ende

Seorang ibu sedang duduk santai di dipan rumahnya

Seorang ibu sedang duduk santai sambil menjaga anak-anaknya di dipan rumahnya

Bidan Mega menjelaskan manfaat Buku KIA pada ibu dengan balita di Dusun Tanjung

Bidan Mega menjelaskan manfaat Buku KIA pada ibu dengan balita di Dusun Tanjung

Pulau Ende, 18 Nopember 2014.

Oleh: Bd. Mega Faridatun Nisak

Kader Posyandu, Sahabat Pro Kesehatan Ibu dan Anak

Tulisan ini merupakan sepenggal refleksi saya atas semangat serta dedikasi tinggi kader-kader Posyandu di Kecamatan Pulau Ende. Baru 2 bulan saya mencoba mengenal lebih dekat para kader Posyandu, turun langsung ke Posyandu di 9 desa. Sebagai tenaga kesehatan yang mewakili Puskesmas Achmad Yani, saya melihat secara langsung bagaimana mereka berjuang melaksanakan kegiatan Posyandu secara rutin meskipun terkendala oleh berbagai keterbatasan. Kemauan untuk bertahan para kader Posyandu ini ternyata mampu membangkitkan antusiasme saya secara pribadi untuk terus berusaha menggali akar persoalan kesehatan komunitas di Pulau Ende.

Mama, adalah panggilan saya untuk mayoritas kader Posyandu yang telah saya kenal. Panggilan ini saya gunakan karena memang kader-kader Posyandu di Pulau Ende mayoritas merupakan ibu yang sudah berumah tangga yang bersedia membagi waktunya untuk melaksanakan kegiatan rutin Posyandu. Kader-kader dengan usia yang lebih muda jumlahnya jauh lebih sedikit dikarenakan kurangnya minat kaum muda untuk turut berkontribusi dalam kegiatan Posyandu, mereka lebih memilih mengikuti kegiatan lain dikarenakan ketidakmauan menjalankan tugas kader Posyandu yang dirasa berat tanpa mendapatkan imbalan yang setimpal.

“ Hati memiliki akal sendiri yang tidak dikenal oleh akal” kiranya kalimat ini yang dapat mewakili ketulusan kader Posyandu dalam menjalankan tugasnya, meskipun tidak mendapatkan imbalan yang setimpal. Bertahan ditengah masyarakat yang cenderung “tidak mau tahu” terhadap perkembangan Posyandu, kader-kader ini tetap berusaha menjalankan kegiatan rutin Posyandu dengan sepenuh hati. Adalah kepedulian terhadap kesehatan ibu dan anak di sekitar tempat tinggal mereka dan keinginan memberikan pelayanan Posyandu secara rutin meskipun dengan kondisi yang jauh dari ideal menjadi dasar panggilan, penghayatan dan pengamalan amanat sebagai kader Posyandu yang tetap dipegang oleh mayoritas kader Posyandu di Pulau Ende.

“ Kami hanya mampu mengisi kegiatan Posyandu dengan timbang berat badan saja tiap bulan, makanan tambahan berupa bubur kacang hijau pun tidak bisa diberikan secara gratis karena tidak ada dana khusus dari desa untuk pemberian makanan tambahan gratis. Kader-kader baru di desa kami juga belum pernah mendapatkan pelatihan sama sekali” Seperti itulah kira-kira pernyataan yang disampaikan mama Diana salah satu kader Posyandu Ndoriwoy 2 saat mendatangi tim Pencerah Nusantara di Posyandu Ndoriwoy 3.

Dalam pelaksanaan tugas saya sebagai Pencerah Nusantara saya semakin banyak terlibat dalam kegiatan monitoring dan evaluasi kegiatan Posyandu, baik yang dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Ende maupun yang tim Pencerah Nusantara laksanakan sendiri. Senada dengan pernyataan mama Diana, dari kegiatan monitoring dan evaluasi ini saya mendapatkan banyak kendala yang dihadapi kader Posyandu mulai dari kendala sarana prasarana sampai seringnya kader yang drop out sehingga sistem 5 meja Posyandu tidak dapat berjalan sesuai dengan standar.

Kader merupakan tokoh utama penggerak pelaksanaan Posyandu. Oleh karena itu, pembinaan secara berkelanjutan terkait kemampuan dan ketrampilan kader untuk melaksanakan kegiatan rutin di Posyandu maupun diluar hari buka Posyandu merupakan hal yang wajib diupayakan oleh masyarakat pada umumnya dan pihak-pihak yang terkait dengan kegiatan Posyandu pada khususnya guna menjaga fungsi Posyandu sebagai Upaya Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat (UKBM) yang mampu menjadi salah satu upaya kesehatan lini pertama dalam peningkatan kesehatan ibu dan anak.

Tulisan ini menunjukkan bahwa masih banyak persoalan terkait pelayanan komunitas di Indonesia. Kehadiran kader-kader Posyandu yang sukarela bekerja membantu memberikan pelayanan secara langsung kepada masyarakat, seharusnya patut mendapatkan perhatian berbagai pihak. Selain itu, telah banyak kader Posyandu yang mampu membuktikan kerja nyatanya dalam menerapkan prinsip-prinsip pelayanan kepada masyarakat dan berkontribusi aktif mewujudkan pembangunan kesehatan yang berkeadilan untuk semua.

Bersama kader-kader Posyandu Dusun Tanjung setelah melakukan sweeping imunisasi balita

Tim Pencerah Nusantara bersama kader-kader Posyandu Dusun Tanjung setelah melakukan sweeping imunisasi balita

Kader Dusun Kemo memberikan penyuluhan gizi di meja 4 Posyandu

Kader Dusun Kemo memberikan penyuluhan gizi di meja 4 Posyandu

Pulau Ende, 13 Nopember 2014

Oleh: Bd. Mega Faridatun Nisak

Say Hello to Pencerah Nusantara angkatan 3 !

Tidak terasa Pencerah Nusantara angkatan 2 telah purna tugas selama satu tahun. Kini tiba masanya Pencerah Nusantara angkatan 3 yang sekaligus menutup masa pembinaan di wilayah saat ini.

Seperti biasa, PN 3 juga hadir dalam formasi 5 Personel yang berasal dari berbagai latar belakang kesehatan yang akan bersinergis selama setahun ke depan membangun kesehatan Indonesia pada umumnya, dan Pulau Ende pada khususnya.

Yuk, intip profilnya satu per satu !

Inget kan, “Tak Kenal Maka Tak Sayang”.

Jadi, Ayo kenalan !

Mochamad Sholehhudin, S.KM (Team Leader, Pemerhati Kesehatan)

Pemuda asal Bangil, Pasuruan, yang merupakan Team Leader PN 3 Ende ini merupakan sarjana kesehatan masyarakat dengan peminatan Kesehatan Lingkungan dari Universitas Negeri Jember . Ia akrab disapa Sholeh.

dr. Yose Rizal (Dokter umum)

Pria asal Jakarta yang akrab disapa Oce. Dokter umum lulusan Uniersitas Yarsi ini hobi sekali jalan-jalan dan wisata kuliner. Meski berprofesi sebagai seorang dokter, Ia sangat lihai memasak lho.

Ns. Nikita Dewayani, S.Kep (Perawat )

Gadis Jakarta keturunan Jawa ini baru saja lulus program Profesi Ners dari Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia. Akrab disapa Niki, Ia hobi sekali jalan-jalan, baca buku, dan wisata kuliner.

Bd. Mega Faridatun Nisak, S.Keb (Bidan)

Bidan imut asal Tuban ini akrab disapa Mega. Dikenal dengan kelincahan dan suaranya yang khas dan medhok Jawanya, membuatnya mudah diingat. Bidan lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga hobi sekali masak.

Umunnisa Hidayati, S.Psi (Pemerhati Kesehatan)

Gadis asal Banda Aceh ini akrab disapa Umi. Umi lulusan sarjana psikologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala. Umi gemar sekali jalan-jalan dan fotografi.

10694262_10203001441813044_351298485732143287_o

Hello, Kami PN 3 Ende !

(kiri-kanan) Sholeh, Umi, Niki, Mega, Oce.

Cheersss~~~

Pesantren Pencerah Angkatan 2 : Menjadi Remaja Berakhlak Mulia, Cerdas, Kreatif, dan Peduli Sesama

??????????

pembukaan secara resmi bersama camat pulau ende

Pada Bulan Ramadhan 1435 H Pencerah Nusantara beserta Puskesmas Achmad Yani dan pihak SMP/MTs se-kecamatan Pulau Ende melaksanakan kegiatan Pesantren Pencerah angkatan 2. Kegiatan ini merupakan modifikasi dari sebuah wadah untuk melakukan pelayanan kesehatan peduli remaja (PKPR). Sebelumnya kegiatan yang sama telah dilakukan oleh PN1 yang menghasilkan Komunitas Remaja Kreatif (KOREK). KOREK merupakan sebuah komunitas remaja yang diharapkan mampu menjadi peer educator (pendidik sebaya) di kalangan remaja baik di sekolah maupun di luar sekolah. Remaja hasil jebolan pesantren pencerah angkatan 2 ini akan bergabung menjadi anggota KOREK yang akan dibina oleh Pencerah Nusantara dan Puskesmas A. Yani.

??????????

peserta mengikuti pratest sebelum memulai pelatihan

Pada mulanya untuk memperoleh remaja yang berkualitas dan bersedia menjadi KOREK dilakukan seleksi. Siswa SMP/MTs yang tertarik mengikuti kegiatan ini mendaftarkan diri dengan mengisi formulir pendaftaran, kemudian peserta yang dinilai lolos tahap administrasi melakukan tes tulis, tahap selanjutnya tes wawancara (oleh pihak Kecamatan) serta diminta melakukan penyuluhan singkat. Setelah melalui berbagai seleksi, maka terpilihlah 20 orang peserta Pesantren Pencerah angkatan 2.

Walaupun kegiatan pesantren pencerah angkatan 2 ini merupakan modifikasi kegiatan PKPR, tetapi dalam pelaksanaannya nilai-nilai ke-Islamanan tidak ditinggalkan begitu saja. Peserta tetap diberikan materi yang bersifat Islami dan pembentukan karakter. Pada pesantren pencerah angkatan 2 ini terdapat beberapa tambahan materi, diantaranya materi pertolongan pertama (P3K) di sekolah, gizi seimbang, pembuatan mading, serta materi motivasi remaja, tanpa meninggalkan materi pokok yang juga diberikan pada angkatan sebelumnya, yaitu: kesehatan reproduksi remaja, NAPZA, infeksi menular seksual, HIV/AIDS, peran sosial media dalam pembentukan karakter remaja, bank sampah, kenakalan remaja, peran remaja dalam pembangunan Pulau Ende yang disampaikan oleh Camat Pulau Ende, serta materi ke-Islaman yang mencakup Hikmah Puasa, Peran Pemuda dalam Islam, Pentingnya Shalat dalam Perkembangan Remaja, dan lain-lain. Selain Pencerah Nsuantara, pemateri merupakan pihak yang kompeten dibidangnya, meliputi petugas puskesmas yang terdiri dari dokter, perawat, kesehatan lingkungan, pihak kecamatan, para ustadz di Pulau Ende, Polsek Pulau Ende, serta blogger.

pembuatan mading

peserta tampak antusias mengikuti games yang dipandu fasilitator

??????????

peserta juga mendapat pengutan materi tentang peran remaja dalam islam

??????????

tampak peserta sedang memberikan tausiah singkat

Pelaksanaan Pesantren Pencerah angkatan 2 berlangsung selama 3 hari 2 malam. Peserta mengikuti kegiatan yang telah disusun panitia, baik mengikuti materi, jadwal shalat, sahur, memberikan tausyah secara bergantian di setiap selesai shalat. Selain kegiatan rutin tersebut, terdapat sesi yang cukup jarang dijumpai bagi anak Pulau Ende, seperti buka puasa serta kesempatan berbincang dengan camat Pulau Ende, cooking class: kemeriahan membuat es buah secara bersama-sama, serta sharing pengalaman dari salah seorang anak Pulau Ende yang berhasil kuliah di luar negeri.

??????????

peserta sedang mempersentasikan hasil diskusi mereka.

??????????

bermain game seru untuk membakar semangat peserta tetap membara

??????????

mengakhiri kegiatan kita denga foto bersama

@uchu_sefti