BIAS Mau ‘Au

Bulan November ini bertepatan dengan bulannya imunisasi anak sekolah (BIAS) di Kecamatan Pulau Ende. BIAS merupakan program pemerintah untuk meningkatkan cakupan imunisasi pada anak usia sekolah dasar, khususnya kelas 1-3 . Hari ini Tim Pencerah Nusantara (Ners Niki dan Bidan Mega)  dan Kak Dian (perawat PKM A. Yani) bertugas memberi imunisasi ke SDN Mau ‘Au yang merupakan satu-satunya sekolah dasar di Dusun Mau’Au. Dusun Mau ‘Au merupakan Dusun dengan akses tersulit di Kecamatan Pulau Ende karena terletak di balik bukit berpasir dengan topografi yang naik turun. Untuk menjangkaunya kami menggunakan ojek yang hanya dapat dilalui sampai jalan setapak kurang 100 m dari SDN Mau ‘Au, yang dilanjutkan dengan jalan kaki di atas jalan turunan berpasir. Kami harus secara perlahan berjalan menuju depan SDN Mau ‘Au. Sepanjang perjalanan ke dusun ini, kami disuguhkan dengan medan yang cukup menguji ketahanan jantung. Rute naik turun bukit dengan kemiringan hampir 90 derajat. Bagi yang pertama kali kesini, mungkin akan merasa ngeri dan takut jatuh seperti pengalaman saya sewaktu pertama kali ke sini 2 bulan lalu. Tapi, jangan khawatir. Semua terbayar dengan pemandangan pantai dari atas bukit yang luar biasa indah sepanjang perjalanan dari Desa Aejeti, Kazokapo, hingga tiba di Mau ‘Au.

Sepanjang kami berjalan di Mau ‘Au hampir tidak kami temui adanya jalan dengan permukaan datar. Hampir semua permukaan jalan berada pada kemiringan 30-45 derajat dengan permukaan tanah berpasir. Kebayang kan kalau naik motor disini. Hebatnya, karena sudah terbiasa dengan medan begitu penduduk Mau ‘Au bisa saja melewati jalan berpasir itu dengan motor. Meski memang debunya berhamburan hingga harus menggunakan masker untuk bisa bernapas lega. Gak heran juga kalau di sini angka morbiditas ISPA (infeksi saluran pernapasan akut) cukup tinggi.

Pemandangan di sepanjang jalan Desa Aejeti

Pemandangan di sepanjang jalan Desa Aejeti

Jalan menuju SDI Mau 'Au

Jalan menuju SDI Mau ‘Au

SDN Mau ‘Au terletak di Mu ‘Au bawah yang berhadapan dengan laut lepas hanya memiliki 6 ruang kelas dan 2 ruang guru dengan kondisi yang serba keterbatasan. Satu kelas hanya diisi 18-20 siswa. Saya masuk ke ke ruang kelas 1, 2, dan 3. Kelas satu hanya berjumlah 18 anak, namun saat kami datang ada 3 anak yang tidak hadir dengan tanpa keterangan. Kelas 2 dan 3 berjumlah 21 orang. Kondisi kelas yang hanya dibatasi papan triplek dengan dinding sebagian tembok. Papan tulis pun masih menggunakan kapur. Anak-anak duduk menyambut kedatangan kami. Lucunya, ada satu anak yang langsung tampak ketakutan dan hampir menangis. Ia nampaknya sudah menangkap sinyal kedatangan kami untuk melakukan imunisasi, yang artinya akan disuntik. Ah, sedetik itu pun saya langsung teringat dengan masa SD saya saat tiba waktu imunisasi. Saya memang tidak pernah kabur saat diimunisasi, tapi saya takut jarum. Alhasil, saya memeluk erat guru saya saat disuntik. Yang penting diimunisasi kan, pikir saya. Hehe :p

Siswa/i SDI Mau 'Au saat menerima kedatangan Tim Pencerah Nusantara dan Puskesmas Achmad Yani

Siswa/i SDI Mau ‘Au saat menerima kedatangan Tim Pencerah Nusantara dan Puskesmas Achmad Yani

Kami pun memperkenalkan diri satu per satu. Kami membagi tugas : Kak Dian penyuluhan imunisasi, saya dan Mba Mega menyiapkan vaksin dalam spuit. Sementara Kak Dian memberi penyuluhan tentang pentingnya imunisasi pada siswa menggunakan bahasa Ende, saya dan Mba Mega dengan cekatan menyiapkan vaksin dalam spuit sejumlah siswa. Nama pun satu per satu dipanggil. Hebatnya, mereka dengan berani duduk di atas kursi dan melipat lengan bajunya sendiri.

Anak-anak yang siap menunggu diimunisasi

Anak-anak yang siap menunggu diimunisasi

Saya : Sakit sedikit yah. Meringis boleh, tapi jangan nangis. Nanti tambah sakit. Kakak suntik yah. Kalau takut merem, kalau berani boleh lihat. Bismillah.

Siswa : (melihat ke arah lengan yang akan disuntik)

Tapi, yang namanya juga anak-anak tetap saja ada rasa takut. Terlihat dari tangannya yang tegang saat saya pegang. Hanya satu dua anak saja yang menerang tidak mau disuntik, tapi pada akhirnya mau dengan bantuan guru kelas.

Setiap anak yang tidak menangis saat disuntik saya jadikan ia motivator bagi teman-temannya yang akan disuntik.

Saya : Tuh kan gak sakit kan?

Siswa yang sudah disuntik : (mengangguk malu)

Saya : Ayo, yang lain pasti berani . Kalo berani pasti gak sakit. Yuk maju berikutnya !

Ners Niki memberikan injeksi vaksin DT ke siswa

Ners Niki memberikan injeksi vaksin DT ke siswa

Setelah ke-39 anak tersebut diimunisasi, kami pun berkumpul dan tak lupa berfoto bersama. Kami mengucapkan terima kasih dan apresiasi atas keberanian mereka untuk disuntik.

Foto bersama setelah imunisasi

Foto bersama setelah imunisasi

Sehat-sehat yah Dek. Sampai jumpa tahun depan di BIAS berikutnya !

Kalian Hebat !

Oleh: Ns. Nikita Dewayani

Advertisements